Kamis, 15 Oktober 2009



Budidaya Murbei





























I. PENDAHULUAN


1.1. Latar Belakang

Persuteraan alam adalah kegiatan agro-industri yang meliputi pembibitan ulat sutera, budidaya tanaman murbei, pemeliharaan ulat sutera, pemintalan benang, pertenunan, pembatikan/ pencelupan/ pencapan/ penyempurnaan, garmen dan pembuatan barang jadi lain termasuk pemasarannya. Pengembangan persuteraan alam pada tingkat hulu diarahkan pada pemanfaatan lahan produktif, lahan kritis (murbei sebagai tanaman konservasi tanah dan air) dan lahan yang belum dimanfaatkan secara komersial, baik milik masyaraka
t maupun pemerintah. Dalam budidaya tanaman murbei dan pemeliharaan ulat sutera diperlukan dukungan sarana dengan teknologi tepat guna agar menghasilkan kokon berkualitas tinggi sehingga
mampu menghasilkan benang sutera bermutu tinggi pula.

Kegiatan persuteraan alam bersifat padat karya yaitu menyer
ap tenaga kerja banyak dan dapat dilakukan oleh laki-laki, perempuan, dewasa maupun anak-anak. Selain itu alam dapat menjadi sumber pendapatan masyarakat dan menggerakan ekonomi kerakyatan di pedesaan melalui kegiatan pemberdayaan masyarakat dalam rangka mengentaskan kemiskinan di pedesaan.

Pengembangan persuteraan alam penting dilakukan karena :

1. Memiliki backward-lingkages dan forward-lingkages yang cukup panjang,
2. Menyerap tenaga kerja terdidik maupun kurang terdidik untuk budidaya tanaman murbei dan pemeliharaan ulat sutera hingga industri pengolahan (
pemintalan, pertenunan pembatikan, pencelupan, pencapan, penyempurnaan dnan garmen), promosi, pemasaran dan pasca penjualan
3. Menghasilkan nilai tambah tinggi dengan rantai nilai yang panjang mulai dari kegiatan di bagian hulu hinggi hilir
4. Meningkatkan pendapatan daerah dan devisa
5. Melibatkan berbagai instansi terkait, pelaku usaha dan masyarakat luas.

Budidaya tanaman murbei merupakan dasar dari persuteraan alam, karena budidaya murbei menghasilkan pakan ulat sutera. Budidaya tanaman murbei merupakan kegiatan usaha dari mulai pembibitan, persiapan tanam, penanaman, pemeliharaan, pa
nen dan pasca panen tanaman murbei yang dilakukan secara intensif dengan memperhatikan konservasi tanah dan air. Tujuannya adalah memproduksi daun murbei untuk pakan ulat sutera dengan produksi daun banyak dan kualitas nutrisi/ gizi tinggi. Sistem penanaman yang dilakukan monokultur atau polikultur/ tumpang sari

Kondisi Pertanaman Murbei di lapangan antara lain :Tanaman kurang perawatan, Produksi daun rendah, dan Kualitas daun kurang optimal, sedangtkan potensinya
antara lain : Tanaman murbei harus dipelihara secara intensif, Produksi\daun mampu mencapai 2 – 3 kg/tanaman/ pangkasan dan Kualitas daun baik. Tanaman murbei jika dibudidayakan tidak intensif maka produksi dan kualitas daun murbei kurang optimal, perkembangan tanaman lambat, kapasitas pemeliharaan ulat sedikit dan produksi dan kualitas kokon kurang.

Beberapa faktor yang mempengaruhi keberhasilan usaha persuteraan alam salah satunya budidaya murbei. Budidaya murbei menghasilkan pakan yang mempen
garuhi 38,2 % keberhasilan usaha pemeliharaan ulat sutera selain jenis ulat 4,2%, klimat: 37,0%, kualitas telur: 3,1%, teknik pemeliharaan ulat: 9,3% dan faktor lain: 8,2%


1.2. Masalah dalam Budidaya Murbei

Dalam budidaya tanaman murbei di Indonesia terdapat beberapa masalah antara lain :

Budidaya tanaman murbei sebagai sumber pakan ulat
sutera belum dilakukan secara intensif
Budidaya tanaman murbei dilakukan sebagai usaha sampingan
Jenis murbei yang ditanam belum seluruhnya unggul
Produktivitas dan kualitas daun murbei sebagai pakan ulat sutera masih rendah
Bibit yang digunakan tidak jelas kualitasnya
Lokasi penanaman kurang sesuai
Lahan kekurangan air/ tadah hujan
Kualitas tanaman kurang baik

1.3. Tujuan Budidaya Murbei

Meningkatkan produktivitas tanaman agar/pakan ulat sutera tersedia secara rutin
Meningkatkan kualitas pakan ulat sutera
Meningkatkan pendapatan petani

1.4. Sasaran

Persediaan pakan ulat sutera banyak
Daun/ pakan berkualitas
Kandungan nutrisi/ protein tinggi
Umur daun cukup

1.5. Prinsip Budidaya Murbei

Menggunakan bibit bermutu
Pengolahan tanah yang baik
Pengairan yang cukup
Pemupukan yang efektif dan efisien
Pengendalian hama dan penyakit secara terpadu
Panen
Pasca Panen


II. PERMASALAHAN DALAM PERSUTERAAN ALAM NASIONAL

2.1. Kebijakan

1. Belum ada sistem yang menjadi acuan dalam pengembangan persuteraan alam nasional
2. Belum ada model yang tepat untuk diterapkan dalam pengembangan persuteraan alam
3. Belum ada pembinaan dan pengembangan persuteraan alam nasional yang terarah dan berkesinambungan
4. Belum ada koordinasi yang terpadu antara instansi pembina dan para stakeholder.

2.2. Produk Sutera

1. Daya saing produk sutera nsional masih rendah dibandingkan dengan produk sejenis dari negara produsen lain
2. Teknologi yang digunakan masih tradisional dan sederhana
3. Proses produksi belum ekonomis
4. Jenis produk sutera masih terbatas
5. Standar Nasional Indonesia untuk kokon belum diterapkan
6. Produksi telur ulat sutera mutunya tidak stabil dan terbatas

2.3. Sumber Daya Manusia (SDM)

1. Pengetahuan petani dalam budidaya murbei dan pemeliharaan ulat sutera masih terbatas
2. Tingkat pengetahuan dan keterampilan perajin dalam pemintalan benang dan pertenunan terbatas
3. Perajin sutera masih sangat tergantung pada para pedagang dalam memasarkan hsil produksinya
4. Pendapatan petani dan perajin untuk mencukupi kebutuhan keluarga masih sangat terbatas

2.4. Kelembagaan

1. Fungsi dan peran Masyarakat Persuteraan Alam Indonesia (MPAI) masih terbatas serta lemah dalam membantu memecahkan permasalahan yang dihadapi anggotanya
2. Koperasi/Kelompok tani/Kelompok perajin sebagai wadah kegiatan usaha belum berfungsi optimal
3. Lembaga pendukung seperti bank dan non bank, litbang, asosiasi pengusaha dan perguruan tinggi mempunyai program sendiri-sendiri sehingga kurang terintegrasi dalam pengembangan persuteraan alam.

2.5. Budidaya Tanaman Murbei

1. Budidaya tanaman murbei sebagai sumber pakan ulat sutera belum dilakukan secara intensif
2. Budidaya tanaman murbei dilakukan sebagai usaha sampingan
3. Jenis murbei yang ditanam belum seluruhnya unggul
4. Produktivitas dan kualitas daun murbei sebagai pakan ulat sutera masih rendah


2.6. Pemeliharaan ulat sutera

1. Petani kurang memahami perilaku ulat sutera
2. Dalam pemeliharaan ulat sutera kedisiplinan dan ketelitian kurang
3. Petani kurang menyadari pentingnya sanitasi lingkungan dalam pemeliharaan ulat sutera
4. Petani belum mampu menetaskan dan memelihara ulat kecil sendiri
5. Produktivitas dan kualitas kokon masih rendah

Berdasarkan kondisi dan permasalahan dalam persuteraan alam, maka untuk menghasilkan sutera alam berkualitas tinggi harus dimulai dari awal, yaitu budidaya tanaman murbei. Produktivitas dan kualitas kokon ulat sutera serta benang sutera sangat dipengaruhi oleh kondisi pakan yang berupa daun murbei. Kuantitas dan kualitas daun murbei dipengaruhi oleh jenis murbei, kualitas bibit, teknik budidaya yang intensif. Sedangkan kuantitas dan kualits benang sutera selain dipengaruhi teknik budidaya tanaman murbei dan pemeliharaan ulat sutera, juga sangat dipengaruhi oleh teknologi reeling dan re-reeling yang mutekhir serta mesin modern yang dapat menghasilkan benang sutera yang berkualitas baik sehingga mampu bersaing di pasar international.


III. TANAMAN MURBEI


3.1. Deskripsi Tanaman Murbei
Tanaman Murbei berasal dari Cina, tumbuh baik pada ketinggian lebih dari 100 m diatas ppermukaan laut dan memerlukan cukup sinar matahari. Tanaman ini mempunyai banyak jenis. Tinggi pohon sekitar 9 m. dan mempunyai percabangan banyak. Daun tunggal, letak berseling dan bertangkai dengan panjang 1-4 cm. Helai daun bulat telur, berjari atau berbentuk jantung, ujung runcing, tepi bergerigi dan warnanya hijau. Bunga majemuk bentuk tandan, keluar dari ketiak daun, warnanya putih. Ukuran dan bentuk buah tergantung kepada jenis murbei. Juga warna buah ada yang putih, putih kemerahan, ungu atau ungu tua sampai hitam. Di India utara murbei dibiarkan tumbuh sebagai pohon di belakang rumah dengan tujuan untuk buah yang enak dan harum.

Tanaman murbei disamping sebagai pakan ulat sutera juga sebagai tanaman konservasi tanah dan penghijauan. Tanaman ini sudah lama dikenal di Indonesia dan mempunyai banyak nama antara lain : Besaran (Jawa Tengah dan Jawa Timur), Kertu ( Sumatra Utara), Gertu (Sulawesi) Kitaoc (Sumatra Selatan), Kitau (Lampung), Ambatuah (Tanah Karo), Moerbei (Belanda), Mulberry (Inggris), Gelsa (Italia) dan Murles (Perancis).

Murbei merupakan tanaman yang mempunyai banyak manfaat dan kegunaan. Selain sebagai sumber pakan ulat, tanaman murbei juga memiliki manfaat lain, yaitu sebagai bahan obat-obatan, desinfektan dan antiasmatik. Manfaat tersebut terdapat dalam berbagai bagian tanaman dari mulai daun, ranting, buah dan kulit.

Daun rasanya pahit, manis, dingin dan masuk kedalam meridian paru dan hati. Khasiatnya sebagai peluruh kentut (karminatif), peluruh keringat (diaforetik), eluruh kencing (diuretik ), mendinginkan darah, pereda demam (antipiretik) dan memperjelas penglihatan.

Buah rasanya manis, dingin dan masuk ke dalam meridian jantung, hati dan ginjal. Fungsinya memelihara darah, ginjal, diuretik, peluruh dahak (ekspektoran), hipotensif, penghilang haus, meningkatkan sirkulasi darah dan efek tonik pada jantung.

Kulit akar rasanya manis, sejuk dan masuk ke dalam meridian paru. Khasiatnya sebagai antiasmatik, ekspektoran, diuretik dan menghilangkan bengkak (detumescent).

Ranting rasanya pahit, netral dan masuk ke dalam meridian hati.. Khasiatnya sebagai karminatif, antipiretik, analgesik, antireumatik dan merangsang pembentukan kolateral.

a. Bentuk Tanaman
Tanaman murbei berbentuk semak/ perdu, tingginya dapat mencapai 5 m – 6 m, tetapi bila dibiarkan tumbuh dapat mencapai 20 m – 25 m.

b. Batang
Batang tanaman murbei warnanya bermacam-macam, tergantung speciesnya, yaitu hijau, hijau kecoklatan dan hijau agak kelabu. Percabangannya banyak dengan arah dapat tegak, mendatar dan menggantung. Batang, cabang dan ranting tumbuh dari ketiak daun dan berbentuk bulat.
c. Daun
Tanaman murbei berdaun tunggal dan terletak pada cabang spiral. Tulang daun sebelah bawah tampak jelas. Bentuk dan ukuran daun bermacam-macam, tergantung jenis dan varietasnya, yaitu berbentuk oval, agak bulat, ada yang berlekuk dan tidak berlekuk. Tepi daun bergerigi dengan ujung daun meruncing atau membulat. Permukaan daun ada halus mengkilap, ada juga yang kasab dan agak kasab.

d. Bunga dan Buah
Bunga murbei berumah satu (monoecious) atau dua (dioecious). Bunga jantan dan betina masing-masing tersusun dalam untaian terpisah.

Buah murbei merupakan buah majemuk yang berwarna hijau pada waktu muda, berwarna kuning kemerahan pada waktu agak tua dan merah sampai ungu kehitaman jika sudah tua.

e. Akar
Tanaman murbei memiliki perakaran yang luas dan dalam. Tanaman yang berasal dari stek perakarannya mampu tumbuh ke bawah mirip dengan akar tunggang hingga mencapai ke dalaman 10 cm – 15 cm dari permukaan tanah, sedangkan akar tanaman murbei yang berumur tua mampu menembus ke dalaman lebih dari 300 cm

3.2. SISTEMATIKA TANAMAN MURBEI :

Divisio : Spermatophyta
Sub Divisio : Angiospermae
Classis : Dicotyledoneae
Ordo : Urticalis
Famili : Moraceae
Genus : Morus
Species : Morus sp.

3.2.1. Varietas Murbei

Di Indonesia ada kira-kira 100 lebih jenis/ varietas murbei, tetapi yang dikenal ada 6 jenis yaitu :

· Morus cathayana
· Morus alba
· Morus multicaulis
· Morus nigra
· Morus australis
· Morus macruora

Dari keenam jenis tersebut, jenis yang dianjurkan ditanam karena keunggulannya, baik produktivitas maupun kualitas daunnya adalah Morus cathayana, Morus alba, Morus multicaulis, Morus kanva (dari India), SHA 4 X LUN 109 (Cina), Morus multicaulis (Cina`2) dan Morus alba (Calafat). Jenis-jenis tersebut sudah beradaptasi cukup baik dengan kondisi lingkungan di Indonesia

3.2.2. Beberapa Varietas Tanaman Murbei


Beberapa varietas tanaman murbei yang tumbuh dan berkembang dengan baik di Jawa Barat disajikan dalam tabel 1.

Tabel 1. Varietas Tanaman Murbei di Jawa Barat

No
Varietas
Species
Negeri asal
Tinggi dpl
1
Kanva-2
M. bombycis
India
400 -1200
2
Cathayana
M. alba
Jepang
200 - 500
3
Multicaulis
M. multicaulis
Jepang
700 - 1200
4
Lembang
M. bombycis
Indonesia
200 - 500
5
Khunpai
M. bombycis
Tailand
200 - 500








































3.3. Syarat tumbuh tanaman murbei

3.3.1. Tanah

¨ Tanaman murbei tumbuh baik pada berbagai jenis tanah
¨ Tinggi tempat antara 300 s/d 800 meter dpl.
¨ Tanah subur, pH tanah 6,5 – 7
¨ Aerasi dan drainase tanah baik dengan solum tanah minimum 50 cm
¨ Dapat diairi, tapi tidak ada genangan air.


3.3.2. Iklim

¨ Sinar Matahari penuh dari pagi hingga sore.
¨ Curah hujan antara 2.500 s/d 3.000 mm/ tahun terbagi merata yaitu 8 bulan basah 4 bulan kering.
¨ Temperature 23 o C – 30 o C.
¨ Kelembaban udara 65 – 90 %


Tabel 2. Kapasitas Produksi Beberapa Jenis Tanaman Murbei

No
Varietas
Produksi (ton/ha)
Sebaran
Asal
1
Multicaulis
10-12
Jabar
Jepang
2
Kanva
12-18
Jabar, Sulsel
India
3
Nigra
5-8
Sulsel

4
Katayana
12-10
Jabar, Sulsel

5
Alba
8-10
Sulsel




3.4. Mutu Daun Murbei

Kualitas daun murbei sebagai makanan ulat sutera sangat dipengaruhi antara lain :

a. Jenis Murbei
Masing-masing jenis murbei mempunyai kandungan unsur kimia yang berbeda secara alami, untuk itu ada jenis yang diunggulkan.

b. Kesuburan Tanah dan Derajat Keasaman Tanah.
Kesuburan tanah jelas akan sangat berpengaruh terhadap mutu daun murbei yang dihasilkan. Derajat keasaman tanah (pH) <>

c. Lama Sinar Matahari Menyinari Kebun Murbei
Kebun murbei yang mendapat sinar matahari sepanjang hari dari pagi sampai sore akan menghasilkan daun murbei yang berkualitas baik.

3.5. Komposisi Nutrisi Daun Murbei

Komposisi kimia daun murbei di Indonesia dan kakuso dari Rumania yang diteliti oleh Dr.Alexandra Matei pada tahun 1996 sebagai berikut :

Tabel 3. Komposisi Kimia Daun Murbei Indonesia dan Rumania